Respons Data SKI 2023, Dinkes Tangsel Dorong Gerakan Masyarakat Sadar Obesitas
CIPUTAT – Pola penyakit di masyarakat Indonesia saat ini tengah mengalami pergeseran epidemiologi yang sangat signifikan. Beban penyakit yang sebelumnya didominasi oleh infeksi menular, kini telah bergeser menjadi Penyakit Tidak Menular atau PTM, dengan obesitas sebagai salah satu faktor risiko utama yang grafiknya terus meroket. Kondisi ini menjadi perhatian serius yang melatarbelakangi digelarnya "Pertemuan Pencegahan dan Pengendalian Obesitas" pada Selasa, 09 Juni 2026. Acara strategis ini menghadirkan pakar gizi klinik terkemuka, dr. Yusi Deviana Nawawi, M.Gizi, SpGK, AIFO-K (@dr.yusi.deviana.spgk), sebagai pembicara utama untuk mengedukasi masyarakat serta para kader kesehatan yang menjadi ujung tombak di lapangan.
Dalam pemaparannya, dr. Yusi menyoroti data memprihatinkan dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan bahwa prevalensi obesitas nasional telah menyentuh angka 19,7%. Lebih mencengangkan lagi, sebanyak 23,4% penduduk dewasa berusia 18 tahun ke atas kini menyandang status obesitas, sebuah lonjakan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan data tahun 2018 yang berada di angka 21,8%. Secara sederhana, kondisi ini berarti sekitar 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas, di mana tren kelebihan berat badan tersebut juga kian mengkhawatirkan karena terus merembet naik pada kelompok anak-anak dan remaja.
Menyikapi alarm merah kesehatan ini, pertemuan tersebut sengaja dirancang untuk mencapai tiga misi utama demi menekan laju PTM di tingkat akar rumput. Langkah pertama difokuskan pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran kader serta masyarakat agar mereka memahami bahwa obesitas bukan sekadar masalah penampilan, melainkan akar dari berbagai penyakit kronis. Melalui pemahaman yang benar mengenai penyebab, dampak, dan cara pencegahannya, diharapkan persepsi masyarakat terhadap obesitas dapat berubah secara mendasar.
Selanjutnya, pertemuan ini juga bertujuan mengasah dan meningkatkan kemampuan para kader kesehatan dalam melakukan edukasi serta pendampingan. Kader diharapkan mampu menjadi motor penggerak yang aktif di lingkungannya masing-masing untuk mengajak warga menerapkan perilaku hidup sehat, terutama dalam menjaga pola makan bergizi seimbang dan melakukan aktivitas fisik secara rutin. Pada akhirnya, muara dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah mendorong kemandirian masyarakat itu sendiri. Setiap individu diharapkan memiliki motivasi kuat untuk mengubah gaya hidup, memahami kondisi tubuhnya, serta mau memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia secara optimal demi pemantauan dan pengendalian berat badan yang berkelanjutan.