SERPONG - Dalam rangka mendukung target pembangunan kesehatan nasional untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menyelenggarakan kegiatan "Rapat Sosialisasi dan Koordinasi Tim Perencanaan dan Penganggaran Terintegrasi Kesehatan Reproduksi (PPT Kespro)". pada Jumat, 4 September 2026.
Kepala Dinas Kesehatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, M.K.M. Dalam laporan pembukanya, memaparkan tren serta evaluasi kasus kematian ibu di Kota Tangerang Selatan. Tercatat pada tahun 2023 terdapat 8 kasus (28,96 per 100.000 kelahiran hidup) dengan penyebab utama perdarahan (5 kasus) dan hipertensi (3 kasus) yang tersebar di Kecamatan Pamulang, Serpong Utara, Serpong, dan Pondok Aren. Angka tersebut relatif sama pada tahun 2024 dengan 8 kasus (28,72 per 100.000 kelahiran hidup), sebelum akhirnya mengalami penurunan menjadi 5 kasus (27,99 per 100.000 kelahiran hidup) pada tahun 2025 yang didominasi oleh kasus perdarahan (3 kasus), hipertensi (1 kasus), and infeksi (1 kasus). Dari evaluasi ini, diketahui bahwa perdarahan dan hipertensi masih menjadi penyumbang terbesar kasus kematian ibu, sehingga penguatan sistem rujukan kegawatdaruratan dan kolaborasi multisektoral melalui program PPT Kespro sangat krusial.
Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM H. Ika, S.E., M.M, beliau menegaskan bahwa Pemerintah Kota Tangerang Selatan berkomitmen penuh untuk menurunkan AKI melalui kebijakan, penganggaran, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, yang salah satunya diwujudkan melalui penerbitan Keputusan Walikota tentang pembentukan Tim Perencanaan dan Penganggaran Terintegrasi Kesehatan Reproduksi Keputusan Walikota Tangerang Selatan No. 400.7.14/Kep.215-Huk/2026. Forum ini diharapkan menjadi wadah strategis bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menyatukan komitmen memastikan setiap ibu mendapatkan layanan kesehatan yang cepat, aman, dan berkualitas.
Memasuki sesi inti, rapat menghadirkan narasumber dari Kementerian Dalam Negeri, Bappeda Provinsi Banten, serta Bapelitbangda Kota Tangerang Selatan. Narasumber dari Bappeda Provinsi Banten, Lelih Herawati, S.KM, M.Kes, memaparkan bahwa rasio kematian ibu di Provinsi Banten menunjukkan tren menurun (dari 75,9 di tahun 2023 menjadi 71,52 di tahun 2024, dan 58,26 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2025). Beliau juga menekankan pentingnya intervensi lintas sektoral—tidak hanya dari aspek kesehatan melalui pelayanan KB dan kespro berkualitas, tetapi juga aspek non-kesehatan seperti pencegahan perkawinan anak, penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta pengentasan akar masalah sosial-ekonomi. Sementara itu, Bapelitbangda Kota Tangerang Selatan memaparkan teknis integrasi program PPT Kespro ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah (Renja SKPD/RKPD).
Kegiatan ini dihadiri oleh 35 unsur peserta yang mencerminkan kolaborasi lintas sektor yang kuat, meliputi jajaran Perangkat Daerah/OPD terkait (Bappeda, Dinkes, Disdukcapil, DP3AP2KB, Dinas Pendidikan, Dinsos, Dinkominfo, BPBD, dll.), para camat se-Kota Tangerang Selatan, pimpinan RSU dan rumah sakit swasta (termasuk RS Hermina Serpong), organisasi kemasyarakatan dan mitra pembangunan (TP PKK, Forum Kota Sehat, Forum Kader Posyandu), serta berbagai organisasi profesi kesehatan (IDI, IBI, POGI Banten, IDAI Banten, PERSAGI, dan APKESMI).
Melalui sinergi yang terbangun antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, tenaga medis, organisasi profesi, dan masyarakat, diharapkan upaya percepatan penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Tangerang Selatan dapat tercapai secara optimal.