Dinkes Tangsel Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah, Fasilitas Isolasi dan Sistem Deteksi Dini Disiagakan
SERPONG – Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Kesehatan resmi meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Penyakit Virus Nipah. Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas diterbitkannya Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 mengenai kewaspadaan terhadap virus tersebut pada akhir Januari lalu. Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus konfirmasi di Indonesia, karakteristik virus yang memiliki tingkat kematian tinggi menjadi alasan utama pengetatan pengawasan di wilayah Tangsel.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, MKM, menjelaskan bahwa Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan reservoir alami pada kelelawar buah. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, hingga kontak erat antar manusia. Mengingat tingkat fatalitasnya yang mencapai 40 hingga 75 persen, identifikasi gejala sejak dini menjadi sangat krusial.
Masyarakat diminta mewaspadai gejala seperti demam di atas 38°C, sakit kepala hebat, batuk, sesak napas, hingga gejala berat seperti kejang dan penurunan kesadaran. Masa inkubasi virus ini umumnya berkisar antara 3 hingga 14 hari, namun dalam beberapa kasus tertentu bisa mencapai 45 hari. Untuk memastikan diagnosis, deteksi dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode PCR, ELISA, atau kultur virus di laboratorium rujukan nasional dengan standar keamanan biologis yang tinggi.
Sebagai langkah konkret di lapangan, Dinkes Tangsel telah menginstruksikan seluruh UPTD Puskesmas dan Rumah Sakit untuk memperkuat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Pengawasan difokuskan pada pemantauan kasus suspek seperti ISPA, pneumonia, serta gangguan saraf seperti meningitis atau ensefalitis. Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan di Tangerang Selatan juga telah disiapkan untuk melakukan penanganan awal, stabilisasi pasien, serta penyediaan ruang isolasi sementara dengan protokol Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang ketat sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan infeksi pemerintah.
Menanggapi laporan internasional mengenai kasus sporadis di India dan Bangladesh, dr. Allin mengimbau warga Tangsel untuk tetap tenang namun tetap mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal ini termasuk menghindari konsumsi nira mentah, memastikan buah-buahan dicuci dan dikupas sebelum dimakan, serta menghindari kontak langsung dengan hewan yang berisiko. Masyarakat juga diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada sumber resmi pemerintah untuk menghindari simpang siur informasi mengenai Virus Nipah.