Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyelenggarakan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 di Aula Blandongan pada 17 April 2026, dengan mengusung tema besar “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”. Acara ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat komitmen lintas sektor dalam mengatasi permasalahan gizi, khususnya percepatan *pencegahan* dan penurunan stunting yang menjadi prioritas nasional.
Wakil Walikota Tangerang Selatan, H. Pilar Saga Ichsan, S.T., M.Ars, dalam sambutannya menekankan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku” sebagai pendorong perubahan perilaku masyarakat. Beliau berpendapat bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalah melalui pemenuhan gizi optimal sejak dini untuk menciptakan generasi yang cerdas dan produktif. Beliau juga memberikan apresiasi tinggi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan para ahli gizi, serta mendorong adanya inovasi dalam pemanfaatan bahan pangan lokal agar menjadi menu berkualitas dan bernilai gizi tinggi.
Dari sisi teknis kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, M.KM, memaparkan kondisi gizi terkini di Tangerang Selatan. Beliau menyoroti tren kenaikan prevalensi stunting di wilayahnya, dari 9% pada tahun 2022 menjadi 10,5% pada tahun 2024. Menghadapi tantangan ini, dr. Allin menekankan bahwa pencegahan stunting jauh lebih efektif dibandingkan penanganan. Beliau memperkenalkan inovasi "BerAkzi", sebuah kolaborasi antara dokter, bidan/perawat, dan tenaga gizi untuk memantau sasaran berisiko tinggi secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan ANC bagi ibu hamil hingga skrining penyakit penyerta pada balita. *Untuk balita gizi kurang, bb kurang, dan balita T serta Ibu hamil KEK dan Risiko KEK diberikan Makanan Tambahan berbasis pangan lokal. Untuk balita stunting dan balita dengan masalah gizi yang membutuhkan penanganan lanjutan, melalui inovasi Rujak Serut Gula Aren Tangsel (Rujuk Balita Stunting ke RSUD Serpong Utara, RSUD Pondok Aren, RSU Tangerang Selatan). Balita dirujuk ke rumah sakit didampingi oleh petugas puskesmas. Balita yang dirujuk akan dipantau oleh dokter spesialis anak hinga mengalami perbaikan gizi.*
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Lilis Suryani, SKM. M.Kes memfokuskan pada detail intervensi spesifik. Penanganan gizi dilakukan berdasarkan SOP yang ketat: ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK) diberikan makanan tambahan selama 120 hari, sementara *balita dengan berat badan tidak naik, balita berat badan kurang, dan gizi kurang* akan langsung mendapatkan PMT Lokal selama 14 hingga 56 hari tergantung kondisi gizinya. Sinergi ini juga melibatkan kader posyandu dan lintas sektor untuk memastikan masyarakat memahami pola konsumsi gizi seimbang berbasis pangan lokal.
Melengkapi narasi tersebut, Nindy Sabrina, S.Gz, M.Sc selaku Narasumber dan Koordinator SPPG, memberikan wawasan mendalam mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beliau menjelaskan bahwa saat ini terdapat 97 SPPG aktif yang melayani *sekitar* 180.000 penerima manfaat, termasuk siswa sekolah dan kelompok 3B (Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita). Beliau menekankan pentingnya intervensi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau periode emas, karena kekurangan gizi pada masa ini dapat memberikan dampak permanen yang tidak dapat diperbaiki di masa depan. Program MBG ini dirancang untuk berkontribusi langsung pada pemenuhan asupan gizi berkualitas guna mencegah stunting secara berkelanjutan.
Seluruh pihak bersepakat bahwa melalui kolaborasi aktif dan pemanfaatan pangan lokal, Kota Tangerang Selatan optimis dapat mewujudkan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.